Apr 21, 2016

Segala Rindu



aku rindu bertemu sunyi
yang kepadanya ku ingin menuntaskan sedu
mengunci jendela-jendela khayalan
sebelum purnama terakhir usai

Apr 7, 2016

Sebab: Akhir Semata Dusta



(I)
kita adalah malam yang memagut kebencian.
ketika temaram mencumbu pekat, berkelindan dengan bayang-bayang.
jejak-jejak kita menelusuri waktu, namun tiada.
punah, tergerus pasang. sekali, berulangkali.
kubisikkan pada rembulan:
“sinari hati sang pengembara.”

Feb 7, 2016

Kau Adalah Koma




kau adalah koma, yang tertulis tak sengaja di sudut buku harianku
tibamu tanpa aba-aba, pada suatu waktu
ketika hari mulai meretas senja
entah mengapa, hadirmu tak ingin kuhapus sedari mula

Jan 27, 2016

Sofa Putih yang Paling Kusukai di Dunia



Sofa putih pada pojok rumah kita adalah hal yang paling kusukai di dunia. Saat pagi hari, setumpuk buku dan segelas sari buah akan menemaniku di sana. Jendela yang terbuka lebar menampakkan pohon-pohon kamboja yang menyembulkan kelopak-kelopak kuning yang sedang bermekaran. Aroma udara pagi menerobos masuk bersama hangatnya mentari pagi. Kicau burung terdengar sesekali, bersama lamunanku tentang kisah-kisah yang ingin kutuliskan untukmu.

Jan 5, 2016

Eleanor(ku)



ingin aku memungut rindu,
yang terjatuh dari jendelamu tadi malam
lalu menaruhnya ke dalam vas 
agar aku bisa terus memandanginya
hingga malam yang ke sekian

Dec 25, 2015

Labirin Dusta



           Tak ada yang akan menemukanku dalam labirin ini. Sebuah kepompong maha sempurna yang dulu dibangun ibu untukku. Tempatku bersembunyi bersama waktu-waktu yang terus merangkak pergi. Labirin inilah sepenuhnya duniaku. Dunia paling aman bagiku untuk berlindung dari rasa sakit pun kemunafikan.
“Kau bukan Minnotaur[1], tapi kau harus berada di sini seumur hidupmu demi sebuah alasan.”